This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Pages

Jumat, 22 Februari 2013

Ki hajar Dewantara dan Taman Siswa

        Suwardi Suryaningrat, sejak 1922 menjadi Ki Hadjar Dewantara, lahir di Yogyakarta2 Mei 1889 – meninggal di Yogyakarta, 26 April 1959 pada umur 69 tahun.  Ia adalah pendiri Perguruan Taman Siswa, suatu lembaga pendidikan yang memberikan kesempatan bagi para pribumi jelata untuk bisa memperoleh hak pendidikan seperti halnya para priyayi maupun orang-orang BelandaTanggal kelahirannya sekarang diperingati di Indonesia sebagai Hari Pendidikan Nasional. Bagian dari semboyan ciptaannya, tut wuri handayani, menjadi slogan Kementerian Pendidikan Nasional Indonesia. Namanya diabadikan sebagai salah sebuah nama kapal perang Indonesia, KRI Ki Hajar Dewantara. Potret dirinya diabadikan pada uang kertas pecahan 20.000 rupiah tahun emisi 1998.
           Soewardi berasal dari lingkungan keluarga Keraton Yogyakarta. Ia menamatkan pendidikan dasar di ELS (Sekolah Dasar Eropa/Belanda). Kemudian sempat melanjut ke STOVIA (Sekolah Dokter Bumiputera), tapi tidak sampai tamat karena sakit. Kemudian ia bekerja sebagai penulis dan wartawan di beberapa surat kabar, antara lain, SediotomoMidden JavaDe ExpresOetoesan HindiaKaoem MoedaTjahaja Timoer, danPoesara. Pada masanya, ia tergolong penulis handal. Tulisan-tulisannya komunikatif dan tajam dengan semangat antikolonial.
        Selain ulet sebagai seorang wartawan muda, ia juga aktif dalam organisasi sosial dan politik. Sejak berdirinya Boedi Oetomo (BO) tahun 1908, ia aktif di seksi propaganda untuk menyosialisasikan dan menggugah kesadaran masyarakat Indonesia (terutama Jawa) pada waktu itu mengenai pentingnya persatuan dan kesatuan dalam berbangsa dan bernegara. Kongres pertama BO di Yogyakarta juga diorganisasi olehnya.
Soewardi muda juga menjadi anggota organisasi Insulinde, suatu organisasi multietnik yang didominasi kaum Indo yang memperjuangkan pemerintahan sendiri di Hindia Belanda, atas pengaruh Ernest Douwes Dekker(DD). Ketika kemudian DD mendirikan Indische Partij, Soewardi diajaknya pula.
        Sewaktu pemerintah Hindia Belanda berniat mengumpulkan sumbangan dari warga, termasuk pribumi, untuk perayaan kemerdekaan Belanda dari Perancis pada tahun 1913, timbul reaksi kritis dari kalangan nasionalis, termasuk Soewardi. Ia kemudian menulis "Een voor Allen maar Ook Allen voor Een" atau "Satu untuk Semua, tetapi Semua untuk Satu Juga". Namun kolom KHD yang paling terkenal adalah "Seandainya Aku Seorang Belanda" (judul asli: "Als ik een Nederlander was"), dimuat dalam surat kabar De Expres pimpinan DD, 13 Juli 1913. Isi artikel ini terasa pedas sekali di kalangan pejabat Hindia Belanda. Kutipan tulisan tersebut antara lain sebagai berikut.
"Sekiranya aku seorang Belanda, aku tidak akan menyelenggarakan pesta-pesta kemerdekaan di negeri yang telah kita rampas sendiri kemerdekaannya. Sejajar dengan jalan pikiran itu, bukan saja tidak adil, tetapi juga tidak pantas untuk menyuruh si inlander memberikan sumbangan untuk dana perayaan itu. Ide untuk menyelenggaraan perayaan itu saja sudah menghina mereka, dan sekarang kita keruk pula kantongnya. Ayo teruskan saja penghinaan lahir dan batin itu! Kalau aku seorang Belanda, hal yang terutama menyinggung perasaanku dan kawan-kawan sebangsaku ialah kenyataan bahwa inlander diharuskan ikut mengongkosi suatu kegiatan yang tidak ada kepentingan sedikit pun baginya".
Beberapa pejabat Belanda menyangsikan tulisan ini asli dibuat oleh Soewardi sendiri karena gaya bahasanya yang berbeda dari tulisan-tulisannya sebelum ini. Kalaupun benar ia yang menulis, mereka menganggap DD berperan dalam memanas-manasi Soewardi untuk menulis dengan gaya demikian.
Akibat tulisan ini ia ditangkap atas persetujuan Gubernur Jenderal Idenburg dan akan diasingkan ke Pulau Bangka (atas permintaan sendiri). Namun demikian kedua rekannya, DD dan Tjipto Mangoenkoesoemo, memprotes dan akhirnya mereka bertiga diasingkan ke Belanda (1913). Ketiga tokoh ini dikenal sebagai "Tiga Serangkai". Soewardi kala itu baru berusia 24 tahun.
        Dalam pengasingan di Belanda, Soewardi aktif dalam organisasi para pelajar asal Indonesia, Indische Vereeniging (Perhimpunan Hindia).
Di sinilah ia kemudian merintis cita-citanya memajukan kaum pribumi dengan belajar ilmu pendidikan hingga memperoleh Europeesche Akte, suatu ijazah pendidikan yang bergengsi yang kelak menjadi pijakan dalam mendirikan lembaga pendidikan yang didirikannya. Dalam studinya ini Soewardi terpikat pada ide-ide sejumlah tokoh pendidikan Barat, seperti Froebel dan Montessori, serta pergerakan pendidikan IndiaSantiniketan, oleh keluarga Tagore. Pengaruh-pengaruh inilah yang mendasarinya dalam mengembangkan sistem pendidikannya sendiri.
       Soewardi kembali ke Indonesia pada bulan September 1919. Segera kemudian ia bergabung dalam sekolah binaan saudaranya. Pengalaman mengajar ini kemudian digunakannya untuk mengembangkan konsep mengajar bagi sekolah yang ia dirikan pada tanggal 3 Juli 1922Nationaal Onderwijs Instituut Tamansiswa atau Perguruan Nasional Tamansiswa. Saat ia genap berusia 40 tahun menurut hitungan penanggalan Jawa, ia mengganti namanya menjadi Ki Hadjar Dewantara. Ia tidak lagi menggunakan gelar kebangsawanan di depan namanya. Hal ini dimaksudkan supaya ia dapat bebas dekat dengan rakyat, baik secara fisik maupun jiwa.
Semboyan dalam sistem pendidikan yang dipakainya kini sangat dikenal di kalangan pendidikan Indonesia. Secara utuh, semboyan itu dalam bahasa Jawa berbunyi ing ngarso sung tulodo, ing madyo mangun karso, tut wuri handayani. ("di depan memberi contoh, di tengah memberi semangat, di belakang memberi dorongan"). Semboyan ini masih tetap dipakai dalam dunia pendidikan rakyat Indonesia, terlebih di sekolah-sekolah Perguruan Tamansiswa.

Budi Utomo


            Pada hari Minggu, 20 Mei 1908, pada pukul sembilan pagi, bertempat di salah satu ruang belajar STOVIA, Soetomo menjelaskan gagasannya. Dia menyatakan bahwa hari depan bangsa dan Tanah Air ada di tangan mereka. Maka lahirlah Boedi Oetomo. Namun, para pemuda juga menyadari bahwa tugas mereka sebagai mahasiswa kedokteran masih banyak, di samping harus berorganisasi. Oleh karena itu, mereka berpendapat bahwa "kaum tua" yang harus memimpin Budi Utomo, sedangkan para pemuda sendiri akan menjadi motor yang akan menggerakkan organisasi itu.
Sepuluh tahun pertama Budi Utomo mengalami beberapa kali pergantian pemimpin organisasi. Kebanyakan memang para pemimpin berasal kalangan "priayi" atau para bangsawan dari kalangan keraton, seperti Raden Adipati Tirtokoesoemo, bekas Bupati Karanganyar (presiden pertama Budi Utomo), dan Pangeran Ario Noto Dirodjo dari Keraton Pakualaman.
           Budi Utomo mengalami fase perkembangan penting saat kepemimpinan Pangeran Noto Dirodjo. Saat itu, Douwes Dekker, seorang Indo-Belanda yang sangat properjuangan bangsa Indonesia, dengan terus terang mewujudkan kata "politik" ke dalam tindakan yang nyata. Berkat pengaruhnyalah pengertian mengenai "tanah air Indonesia" makin lama makin bisa diterima dan masuk ke dalam pemahaman orang Jawa. Maka muncullah Indische Partij yang sudah lama dipersiapkan oleh Douwes Dekker melalui aksi persnya. Perkumpulan ini bersifat politik dan terbuka bagi semua orang Indonesia tanpa terkecuali. Baginya "tanah air api udara" (Indonesia) adalah di atas segala-galanya.
           Pada tanggal 3-5 Oktober 1908, Budi Utomo menyelenggarakan kongresnya yang pertama di Kota Yogyakarta. Hingga diadakannya kongres yang pertama ini, BU telah memiliki tujuh cabang di beberapa kota, yakni Batavia, Bogor, Bandung, Magelang, Yogyakarta, Surabaya, dan Ponorogo. Pada kongres di Yogyakarta ini, diangkatlah Raden Adipati Tirtokoesoemo (mantan bupati Karanganyar) sebagai presiden Budi Utomo yang pertama. Semenjak dipimpin oleh Raden Adipati Tirtokoesoemo, banyak anggota baru BU yang bergabung dari kalangan bangsawan dan pejabat kolonial, sehingga banyak anggota muda yang memilih untuk menyingkir. Pada masa itu pula muncul Sarekat Islam, yang pada awalnya dimaksudkan sebagai suatu perhimpunan bagi para pedagang besar maupun kecil di Solo dengan nama Sarekat Dagang Islam, untuk saling memberi bantuan dan dukungan. Tidak berapa lama, nama itu diubah oleh, antara lain, Tjokroaminoto, menjadi Sarekat Islam, yang bertujuan untuk mempersatukan semua orang Indonesia yang hidupnya tertindas oleh penjajahan. Sudah pasti keberadaan perkumpulan ini ditakuti orang Belanda. Munculnya gerakan yang bersifat politik semacam itu rupanya yang menyebabkan Budi Utomo agak terdesak ke belakang. Kepemimpinan perjuangan orang Indonesia diambil alih oleh Sarekat Islam dan Indische Partij karena dalam arena politik Budi Utomo memang belum berpengalaman. Karena gerakan politik perkumpulan-perkumpulan tersebut, makna nasionalisme makin dimengerti oleh kalangan luas. Ada beberapa kasus yang memperkuat makna tersebut. Ketika Pemerintah Hindia Belanda hendak merayakan ulang tahun kemerdekaan negerinya, dengan menggunakan uang orang Indonesia sebagai bantuan kepada pemerintah yang dipungut melalui penjabat pangreh praja pribumi, misalnya, rakyat menjadi sangat marah.
           Kemarahan itu mendorong Soewardi Suryaningrat (yang kemudian bernama Ki Hadjar Dewantara) untuk menulis sebuah artikel "Als ik Nederlander was" (Seandainya Saya Seorang Belanda), yang dimaksudkan sebagai suatu sindiran yang sangat pedas terhadap pihak Belanda. Tulisan itu pula yang menjebloskan dirinya bersama dua teman dan pembelanya, yaitu Douwes Dekker danTjipto Mangoenkoesoemo ke penjara oleh Pemerintah Hindia Belanda (lihat: Boemi Poetera). Namun, sejak itu Budi Utomo tampil sebagai motor politik di dalam pergerakan orang-orang pribumi.
           Agak berbeda dengan Goenawan Mangoenkoesoemo yang lebih mengutamakan kebudayaan dari pendidikan, Soewardi menyatakan bahwa Budi Utomo adalah manifestasi dari perjuangan nasionalisme. Menurut Soewardi, orang-orang Indonesia mengajarkan kepada bangsanya bahwa "nasionalisme Indonesia" tidaklah bersifat kultural, tetapi murni bersifat politik. Dengan demikian, nasionalisme terdapat pada orang Sumatera maupun Jawa, Sulawesi maupun Maluku.
            Pendapat tersebut bertentangan dengan beberapa pendapat yang mengatakan bahwa Budi Utomo hanya mengenal nasionalisme Jawa sebagai alat untuk mempersatukan orang Jawa dengan menolak suku bangsa lain. Demikian pula Sarekat Islam juga tidak mengenal pengertian nasionalisme, tetapi hanya mempersyaratkan agama Islam agar seseorang bisa menjadi anggota. Namun, Soewardi tetap mengatakan bahwa pada hakikatnya akan segera tampak bahwa dalam perhimpunan Budi Utomo maupun Sarekat Islam, nasionalisme "Indonesia" ada dan merupakan unsur yang paling penting.

Kriteria Guru yang Dilatih untuk Kurikulum Baru


Criteria guru

DEPOK, KOMPAS.com - Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) menetapkan para guru calon peserta pelatihan implementasi kurikulum 2013. Para guru tersebut disiapkan menjalani pelatihan agar siap menerapkan kurikulum 2013 sehingga tidak terjadi kebingungan saat mengajar.

Wakil Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Bidang Pendidikan Musliar Kasim mengatakan bahwa guru yang menjadi sasaran utama untuk jenjang Sekolah Dasar (SD) adalah guru kelas 1, guru kelas 4 dan guru pendidikan jasmani yang sudah terpilih di masing-masing sekolah sesuai dengan pelaksanaan tahap pertama.

"Nanti akan dibuat satu rombongan belajar. Satu rombongan isinya lima orang guru termasuk kepala sekolah," kata Musliar saat Rembuk Nasional Pendidikan dan Kebudayaan di Pusat Pengembangan Tenaga Kependidikan, Depok, Selasa (12/2/2013).

Sementara untuk jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP), yang akan dilatih meliputi kepala sekolah, guru agama, guru pendidikan jasmani, guru seni budaya, guru IPA, guru IPS, guru bahasa Inggris, guru bahasa Indonesia, guru PPKn, guru matematika, dan guru prakarya .

"Mata pelajaran di SMP disederhanakan menjadi 10. Guru yang akan dilatih 11 orang guru untuk kelas VII," jelas Musliar.

Untuk mata pelajaran IPS, sekolah harus memilih salah satu guru yaitu guru sejarah, guru geografi, atau guru ekonomi. Demikian juga halnya untuk mata pelajaran IPA, guru yang dipilih guru biologi atau fisika. Selain guru, pengawas juga mendapat pelatihan untuk kurikulum 2013 ini.

Adapun untuk jenjang sekolah menengah atas (SMA) dan sekolah menengah kejuruan (SMK) jumlah guru yang dilatih minimal sebanyak lima orang termasuk kepala sekolah meliputi guru matematika, guru bahasa Indonesia, guru sejarah, dan guru bimbingan konseling (BK).
 
Sumber : Ditetapkan, Kriteria Guru yang Dilatih untuk Kurikulum Baru - KOMPAS.com1.htm

Robot Canggih Asimo Semakin Pintar



Sejak dimulai pada tahun 2000, Asimo sendiri telah melalui beberapa perbaikan yang berkaitan dengan keterampilan motorik, manuver, dan indra. Dari perspektif fisik, para ilmuwan telah mengembangkan suatu pola baru berjalan / berlari yang memungkinkan robot Asimo untuk bergerak jauh lebih cepat dari 6 km per jam (3,7 mph) hingga 9 kilometer per jam (5,6 mph).


Dalam hal ini, perbaikan tidak hanya terkait dengan kecepatan gerakan, tetapi juga dengan kelancaran gerakan yang melekat. Menurut desainer, Asimo memiliki 'derajat kebebasan' lebih dari 34 dalam tubuhnya, mulai dari kepala ke 'boot'. Fitur-fitur inovatif memungkinkan alat untuk memanjat tangga, berlari, melompat dan bahkan mengangkat satu kaki, sehingga memfasilitasi replikasi naturalistik menggerakkan perilaku manusia.

Berjabat Tangan Secara Otomatis

Di luar kegiatan menggerakkan bagian tubuh yang luar biasa, Asimo juga diberkahi dengan kemampuan penginderaan canggih. Para desainer telah mengembangkan sistem cerdas, yang memungkinkan robot untuk mengenali berbagai pola seperti benda acak, tekstur, warna, suara dan kondisi perilaku seperti gerak tubuh dan atribut wajah.

Semua informasi ini ditangkap oleh built-in sistem kamera ganda Asimo itu (dalam kepala). Robot menerima info ini visual, dan kemudian memproses data untuk tindakan responsif. Sebagai contoh, jika tangan diperpanjang menuju Asimo, robot akan mengakui itu sebagai undangan untuk jabat tangan, dan dengan demikian memperluas ekstremitas untuk menyelesaikan tindakan (tangan gemetar). Sebagai soal fakta, Asimo hampir mandiri cerdas memiliki kemampuan mengenali 10 wajah yang berbeda dan berinteraksi dengan mereka. Selain itu, juga dapat memahami pola-pola suara dan suara untuk memilih mitra yang diakui (manusia interaktif).

Mampu Selesaikan Tugas

Kita telah berbicara tentang karakteristik menggerakkan Asimo seperti berjalan, berlari dan melompat. Seiring dengan ini, robot ini juga diresapi dengan sejumlah atribut fisik, dibuat khusus untuk mencapai tugas-tugas tertentu. Hal ini dapat dilihat dalam pertimbangan struktur rumit yang dilakukan oleh para ilmuwan, terutama dalam multi-joint tangan, kaki dan jari-jari.

Menurut desainer, tungkai dan ekstensi mereka dilengkapi dengan teknologi kontrol orbit yang memungkinkan untuk mengontrol dari 57 motor tertanam dalam sendi. Hal ini pada gilirannya endows ASIMO dengan 'pintar' memiliki kemampuan seperti fungsi kontrol jari (membawa dan membuka kotak kecil), menghindari dan mendekati objek tertentu dalam medan kompak / keramaian.

ASIMO di CES 2007 Las VegasAsimo di CES 2007 Las Vegas

Asimo telah melakukan tur di seluruh dunia, menampilkan bakat yang unik, bakat dan kemampuan. Kadang-kadang disebut-sebut sebagai robot humanoid yang paling maju di dunia, konsepsi ini masih sedang dikembangkan untuk kemampuan yang mengagumkan selanjutnya.

Bersama ini, perkembangan fitur telah semakin canggih, seperti yang sekarang, sistem yang rumit telah mengalami beberapa perbaikan penting. Semua augmentations telah serius ditekankan secara keseluruhan tingkat otonomi 'cerdas' (yang tentunya menggantikan kendala kontrol manual).

Segudang atribut diinfus di ASIMO membuatnya nyaris menjadi sempurna, seperti melakukan pekerjaan fisik dengan teliti dan berat seperti membantu keluar orang-orang tua.

Selain itu, robot ini ditanami dengan teknologi adaptasi cerdas, yang memungkinkan untuk bergerak di lingkungan yang sama sekali tidak diketahui. Jadi, tentu kita bisa berharap untuk masa depan bahwa Asimo dapat digunakan untuk membantu manusia bahkan dalam kasus - kasus darurat seperti tanah longsor, tumpahan minyak dan gempa bumi.


Rabu, 20 Februari 2013

Ahmad Dahlan dan Muhammadiyah


          Design awal pendidikan muhammadiyah berangkat dari motivasi teologis yang kuat, yaitu manusia akan mencapai derajat keimanan dan ketaqwaan yang sempurna jika memiliki kedalaman ilmu pengetahuan. Inilah kemudian yang menjadi garis pembeda antara output pendidikan muhammadiyah dengan output pendidikan konvensional barat dan pendidikan tradisional pribumi waktu itu.. Eksistensi pendidikan muhammadiyah saat itu memiliki nilai tawar tinggi karena mampu melahirkan generasi yang "lebih sempurna". hal ini berbeda dengan praktik penyelenggaraan pendidikan Muhammadiyah sekarang.
          Orientasi kedepan dalam penyelenggaraan pendidikan mempersiapkan lulusannya untuk memasuki Indonesia baru yang merdeka dengan segala modernitasnya. Perlu ditanyakan kembali hendak dikemanakan pendidikan Muhammadiyah sekarang?Tidak banyak pengelola pendidikan Muhammadiyah yang memahami bahwa mengelola pendidikan adalah menjual idea tau gagasan. Para pengelola tersebut sekarang harus berfikir untuk mempersiapkan peserta didiknya yang akan menjalani hidup beberapa tahun kedepan. Sesuai dengan watak tajdid(pembaharuan), pendidikan Muhammadiyah kini sangat membutuhkan kepemimpinan transformasi agar perubahan secara tersistem dapat berjalan.
               Tujuan pendidikan Muhammadiyah hasil konferensi pendidikan di Bandung yang kemudian disahkan oleh Sidang Tanwir di Pekajangan tahun 1955 adalah untuk membentuk manusia muslim, berakhlak mulia, cakap, percaya kepada diri sendiri dan berguna bagi masyarakat. Terdapat system pendidikan yang berbeda antara yang ada di Pondok Muhammadiyah dan dipondokpendidikan islam Tradisional. Perbedaaan itu melliputi : 1. Cara belajar dan mengajar di pondok pesantren “tradisional” (minimal waktu itu) masih memakai cara belajar dengan system sorogan dan weton, tetapi di pondok Muhammadiyah digunakan system klasikal dengan memakai cara-cara terhitung modern, seperti yang dilakukan dalam pendidikan di barat. 2. Bahan pelajaran di pondok tradisional bahan pengajaran hanya agama, sedangkan di Muhammadiyah di ajarkan pengetahuan umum. Dan kitab –kitab yang diajarkan disamping terdapat karangan utama salaf juga terdapat karangan ulama khalaf. 3. Rencana pelajaran, di pesantren tradisional belum memiliki rencana pelajaran yang teratur dan integral sedang di pondok Muhammadiyah sebaliknya.4. Pengasuh dan guru, di pesantren tradisional para pengasuhnya hanya terdiri dari mereka yang berpengalaman agama saja, tetapi di pondok Muhammadiyah disamping ada guru-guru agama juga terdapat guru-guru ilmu pengetahuan. 5. Hubungan guru dan murid, dipondok pesantren tradisional hubungan guru dengan murid lebih bersifat otoriter (waktu itu), sedangkan di pondok Muhammadiyah diusahakan suasana yang lebih akrab antara guru dan para santri.

sumber : Pendidikan yang memerdekakan siswa

Selasa, 19 Februari 2013

Pendidikan, Kemerdekaan dan Kemiskinan

           Masalah pokok di negara berkembang seperti indonesia ialah kemiskinan. Peranan pendidikan di dalam penuntasan kemiskinan telah merupakan kajian dari para ahli ekonomi seperti Amartya Sen dan Jeffery Sachs. Kemiskinan bukan hanya dalam arti ekonomis, tetapi juga kemiskinan politis, kemiskinan pendidikan, dan kemiskinan kesehatan. Kedua, penuntasan kemiskinan bukan hanya dapat di vapai secara pengembangan suatu sektor, melainkan berbagai sektor penting yang berkenaan dengan kepentinganh rakyat banyak. Salah satu program penting adalah pendidikan serta pengembangan Ilmu Pengetahuan melalui pendidikan tersebut.
          masyarakat terus diresahkan oleh kebijakan pendidikan nasional tanpa arah yang jelas. Misal dalam pelaksanaan evaluasi pendidikan dalam bentuk kajian negara. Kualitas pendidikan nasional terpuruk namun tiada usaha untuk mengatasinya didasarkan perencanaan yang matang.
         Menurut tilaar, biang keladai dan kekacauan perenvanaan pendidikan belum mempunyai visi pembangunan yang jelas. Kita lihat misalnya, RUU Rencana Pembangunan jangka Panjang nasional 2005-2025 yang disampaikan presiden ke DPR merumuskan sasaran pokok dalam 20tahun mendatang antara terwujudnya daya saing bangsa untuk mencapai masyarakat sejahtera. padahal niali - nilai pancasila didalam UUD 1945 bukan menekankan pada persaingan, tetapi kebersamaan. Di dalam kebersamaan itu kita dapat meningkatkan daya saing sebagai bangsa.
       Dalam UUD NRI tahun 1945 Pasal 28c ayat (1) ditetapkan "setiap  orang berhak mengembangkan diri melalui pemenuhan kebutuhan dasarnya, berhak mendapatkan pendidikan dan memperoleh manfaat dari ilmu pengetahuan dan teknologi, seni dan budaya, demi meningkatkan kualitas hidupnya dan demi kesejahteraan umat manusia". Hak warga atas pendidikan tersebut dipertegas kembali dalam pasal 31 ayat(1) yang menetapkan, "Setiap warga negara berhak pendidikan". Kewajiban negara ditetapkan dalam pasal 31 ayat(2) yang menetapkan, "Setiap warga negara wajib mengikuti pendidikan dasar dan pererintah wajib membiayainya.


sumber : pendididan yang memerdekakan siswa

Senin, 18 Februari 2013

7 Penyebab Kualitas Pendidikan Indonesia Rendah

Berikut ini 7 alasan utama mengapa kualitas pendidikan Indonesia masih rendah, bahkan sangat rendah.

1. Pembelajaran yang terpaku pada buku paket (KURIKULUM BUKU PAKET)
Di indonesia telah berganti beberapa kurikulum. Hampir setiap menteri mengganti kurikulum lama dengan kurikulum yang baru. Namun adakah yang berbeda dari kondisi pembelajaran di sekolah-sekolah? TIDAK. Karena pembelajaran di sekolah sejak dulu masih memakai KURIKULUM BUKU PAKET. Sejak 60-70an Pembelajaran di kelas tidak jauh berbeda. Apapun kurikulumnya, guru hanya mengenal buku paket. Materi dalam buku paketlah yang menjadi “kitab suci” pengarajaran guru. Jika tidak percaya, cobalah tanya guru, apakah mereka bisa mengajar tanpa menggunakan buku paket sebagai buku pegangan?

2. Model pembelajaran Ceramah melulu
Metode pembelajaran yang menjadi favorit guru mungkin hanya satu, yaitu metode BERCERAMAH. Karena berceramaha itu mudah dan ringan, tanpa persiapan banyak, tanpa membutuhkan sarana yang banyak, tanpa persiapan yang rumit, pokoknya mudah banget. Metode ceramah menjadi metode terbanyak yang diapakai guru karena memang hanya itulah metode yang benar-benar dikuasai sebagain besar guru. Pernahkah guru mengajak anak berkeliling sekolahnya untuk belajar? Pernahkah guru membawa anak-anak melakukan percobaan di alam lingkungan sekitar? Atau pernahkah guru membawa seorang tentara langsung di kelas untuk menjelaskan profesi tentara?

3. Kurangnya daya dukung sarana prasarana dari regulator
Sebenarnya sih perhatian pemerintah itu sudah cukup, namun masih kurang banget. Pemerintah yang getol memberikan pelatihan pengajaran yang PAIKEM (dulunya PAKEM) tanpa memberikan pelatihan yang benar-benar memberi dampak dan pengaruh. Malah sebaliknya, pelatihan metode PAIKEM oleh pemerintah dilaksanakan dengan CERAMAH!
Selain itu lihatlah di sekolah-sekolah, adakah perpustakaan yang menjadi favorit siswa? Penulis pernah ke sebuah sekolah yang menjadi pilot project akselerasi, tapi perpustakaan menjadi tempat paling hening, tak ada siswanya. Mau membaca apa, jika di perpustakaan hanya berisi buku pelajaran melulu.
Atau lihatlah sarana-sarana pembelajaran, sudah lengkaplah sarana pembelajaran di sekolah-sekolah?

4. Peraturan yang membelenggu
Ini tentang KTSP, Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan, yang seharusnya sekolah memiliki kurikulum sendiri sesuai dengan karakteristiknya. Namun apa yang terjadi? Karena tuntutan RPP, SILABUS yang “membelenggu” kreatifitas guru dan sekolah dalam mengembangkan kekuatannya. Yang terjadi RPP banyak yang jiplakan (bahkan ada lho RPP dijual bebas, siapapun boleh meniru). Padahal RPP seharusnya unik sesuai dengan kondisi masing-masing sekolah. Administrasi-administrasi yang “membelenggu” guru, yang menjadikan guru lebih terfokus pada administrator, sehingga guru lupa fungsi utama lainnya sebagai mediator, motivator, akselerator, fasilitator, dan tor-tor lainnya.

5. Guru tidak mengajari keterampilan bertanya, murid tidak berani betanya (KOMPETENSI SETENGAH)
Lihatlah pembelajaran di ruang kelas. Sepertinya sudah diseragamkan. Anak duduk rapi, tangan dilipat di meja, mendengarkan guru menjelaskan. Anak “dipaksa” mendengar dan menerima inoformasi sejak pagi hingga siang. Anak diajarkan cara menyimak dan mendengarkan penjelasan guru, sementara kompetensi bertanya tak disentuh. Anak-anak dilatih sejak TK untuk diam saat guru menerangkan, untuk mendengarkan guru. Akibatnya anak tidak dilatih untuk bertanya. Anak tidak dibiasakan bertanya, anak tidak berani bertanya.
Selesai mengajar, guru meminta anak untuk bertanya. Heninglah suasana kelas. Yang bertanya biasanya anak-anak itu saja.

6. Guru tidak berani mengajukan pertanyaan terbuka (KURANG KREATIF)
Salah satu ciri negara FINLANDIA yang merupakan negara ranking pertama kualitas pendidikannya adalah dalam ujian guru memberkan soal terbuka, siwa boleh menjawab soal dengan membaca buku. Di Indoneisa? Wah tunggu dulu, nanti banyak yang nyontek dong, begitu kilah seorang guru. Guru Indonesia belum siap menerapkan ini karena masih kesulitan membuat soal terbuka. Soal terbuka seolah-olah beban berat. Mendingan soal tertutup atau soal pilihan ganda, menilainya mudah, begitu kira-kira kilah guru.
Mmebuat soal terbuka memang membutuhkan kreatifitas dan pemahaman, mungkin guru di Indoensia belum memiliki kedua kompetensi itu.

7. Siswa menyontek, guru pun juga (BUDAYA MENYONTEK)
Siswa menyontek itu biasa terjadi. Tapi guru menyontek? Ini lebih parah. Lihatlah tes-tes yang diikuti guru, menyontek telah merasuki sosok guru.
Seorang teman, saat menjadi pengawas UN menyita kertas-kertas kecil yang menjadi contekan anak-anak. DI sekolah lain, guru menyebarkan jawaban soal UN kepada siswa-siswanya.
Sepertinya menyontek telah mengakar jauh ke dalam sosok siswa bahkan guru. Seolah-olah tak ada yang menghargai hasil kerja sendiri, hasil pemikiran sendiri. Siswa dan guru terjebak kepada yang penting dapat nilai besar, yang penting lulus.